Jack Of All Trades - Chapter 6 Bahasa Indonesia

Mode gelap
Chapter 6 - Kota di Hutan

"TOOOLOOONG AKUUU!!"


Itu adalah tangisan yang tak tahu malu, habis-habisan minta tolong. 


Aku berteriak dengan segenap udara di paru-paruku dan berharap akan ada orang-orang di dekat pintu masuk kota. Serigala berada di belakangku dan akan menerkam setiap saat ketika aku berlari ke gerbang.


Doaku dijawab. Seorang lelaki tua memegang tombak melompat keluar dari balik gerbang. Itu orang pertama yang kutemui di dunia ini. Penduduk kota nomor satu!

"Apa itu!? Apa yang terjadi!?"


"Serigala!! Serigalaaaa!!”


Aku sedemikian panik sehingga aku tidak dapat membentuk kalimat. Tapi perkataan itu adalah semua yang dibutuhkan untuk disadari oleh lelaki tua itu. Dia dengan cepat meniup peluit yang ada di lehernya. Saat itu, enam pria muncul dari sisi lain gerbang. Apakah mereka *sextuplets? Tidak.
(sextuplets: Mungkin maksudnya enam kembar, atau Salah satu dari kelompok enam orang yang lahir dari ibu yang sama selama kelahiran yang sama) 

“Ini sekelompok serigala hutan! Seorang pengembara sedang diserang! ”


"Hei kau! Kemari! Masuk ke dalam!"


Kau tidak perlu bertanya dua kali! Aku gemetar dan mengangguk, lalu berlari secepat yang aku bisa. Rasanya seperti suara serigala menjadi jauh. Aku mempertahankan momentum dan bergegas melewati kelompok orang tua dan jatuh melewati gerbang.


Ai, air...! Tenggorokanku kering sekali ketika aku memaksakan diri untuk bernapas dan kemudian berbalik. Orang-orang tua dengan tombak menghadapi serigala... serigala hutan di dua baris tiga dan empat. Serigala hutan tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan, mereka menyerang para pria. Aku tersentak kaget. 


Tombak menabrak taring, dan pertarungan dimulai. Tapi meskipun orang-orang ini memiliki tombak, serigala banyak yang menentang orang-orang itu. Sekarang setelah aku menarik napas, aku mengambil billhook dan pergi bergabung dalam keributan itu. 


Tapi, saat itu, sesuatu mencengkeram pundakku dan melemparkanku ke tanah. Hei, siapa sih? Aku sibuk.


"Sekarang, kau duduk di sini, *hati ayam."
(*hati ayam=pengecut) 


Aku mendongak dan melihat seorang pria tua yang kurus kering dengan seringai di wajahnya. Dia mengenakan armor kulit dan membawa dua pedang terhunus di tangannya. Siapa dia sebenarnya?


“Haha, itu sprint yang bagus tadi! Kau terlihat seperti kelinci berlari untuk hidupnya, hah!”


Sekarang seorang pria yang tampak gempal dengan wajah agak ofensif muncul memegang pedang pendek. Yah, ini bukan kesan pertama yang terbaik....


“Ada apa dengan kalian... Ini penting. Biarkan aku pergi."


“Daannnn seperti yang kukatakan, apa gunanya bagi seorang pengecut sepertimu pergi? Apa yang akan kaulakukan dengan billhook tua berkarat? Eh? "


“Tentu saja, aku akan pergi dan membantu orang-orang itu melawan para serigala!? Apakah kalian tidak melihat berapa jumlahnya!”


Pria ceking dan pria kekar saling memandang. Lalu mereka meledak menjadi tawa riuh.


“Buwahhaha!! Kau, kau! Tidakkah kaupikir kau terlalu panik terhadap beberapa serigala hutan!!”


"Siapa pun kau!! Apakah kau seorang pengembara bepergian!? Kau membuat kami tertawa hah!! ”


Aku tidak mengerti.... Jadi angka-angka itu tidak serius bagi mereka? Atau, apakah ini normal?


“Lalu, apa yang membuat kalian berdua kemari...? Mengapa senjatanya?”


"Mengapa? Tentu saja kami membawa ini untukmu." Sambil mengatakan itu, ujung pedang itu menunjuk ke tenggorokanku. Dalam sekejap kedua pria itu menjadi sangat serius.


"Jangan coba-coba ngelawak. Jika ternyata kau adalah orang berbahaya yang hanya berpura-pura gemetar ketakutan seperti kelinci, maka kami mungkin harus membunuhmu. ”


"Betul. Sekarang, apa kau mau menyerahkan billhook kotor itu? ”


Ah, aku mengerti. Para penjaga gerbang tua itu harus pergi untuk melawan serigala hutan, jadi mereka dikirim untuk mengawasiku.


“Aku minta maaf. Ini, ambil billhook-nya. Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Jadi tolong jangan gunakankan itu untukku. "


“Selama kau mengerti. Kau akan diam dan duduk di sini dengan tenang. "


Pria kerdil itu menerima billhook tanpa kata dan memeriksa pisaunya.


"Hei kau. Kau datang melalui hutan hanya dengan ini? ”


“Ah, ya. Aku mencurinya dari goblin.”


"Hah? Seorang goblin?"


"Yah, aku tidak punya yang lain."


Pria *geng itu menatapku dengan ragu.


"Baiklah kalau begitu. Bagaimana, bagaimana kau mencurinya dari goblin? "


“Aku menikamnya dengan tombak yang kubuat dari dahan pohon yang kuukir. Aku menusuk goblin tepat di perut dan membunuhnya ketika dia jatuh. Kemudian aku mengambil senjatanya.”


"Apakah kau berasal dari suku asli atau ...."


Pria ceking yang telah mendengarkan diam-diam menatapku dengan ekspresi jengkel. Nah, apa lagi yang harus aku lakukan! Aku benar-benar tidak bersenjata!


"Benar-benar, kelinci hitam macam apa...."


"Kelinci hitam?"


"Rambutmu. Itu hitam, bukan? Dan kau adalah kelinci pengecut. Cocok sekali! Kelinci Hitam!"


Hei, mereka itu makhluk kecil yang lucu, tapi dia jelas-jelas bermaksud untuk menghinaku! Apakah kau bercanda!


Ketika kami berbicara seperti ini untuk sementara waktu, serigala hutan dimusnahkan. Rupanya, mereka benar-benar tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Standar harus cukup tinggi di dunia ini. Atau hanya aku yang sangat lemah?


“Ah, sudah lama sejak kami bertarung. Itu sangat, sangat melelahkan. ”


"Terima kasih, dan aku mohon maaf atas masalah ini."


Aku membungkuk ke penjaga gerbang tua yang telah kembali. 


Aku benar-benar telah diselamatkan. 


Aku akan mati jika orang-orang ini tidak datang. Tenggorokanku akan robek dan mereka akan menyeret tubuhku kembali ke hutan .... 


“Bah, itu bukan apa-apa. Tidak setiap hari kamu diserang oleh seluruh serigala. Itu pasti cukup mengejutkan bagimu. Ah, Gardo dan yang lainnya juga sangat membantu. ”


"Gardo?"


“Tidak, kami hanya bosan. Lupakan kami. "


Laki-laki yang tampak lesu itu menjawab. Jadi orang itu adalah Gardo.


"Ayo pergi, Ness."


"Baik. Sampai jumpa lagi, Kelinci Hitam. ”


Pria kekar bernama Ness, senyum padaku saat dia berjalan pergi. Keduanya sangat aneh... aku yakin aku akan melihat mereka lagi. Aku berharap mereka setidaknya berhenti memanggilku Kelinci Hitam.


“Kamu, kamu tertutup kotoran, aku mengerti. Apakah kamu terluka?"


“Umm, ini hanya untuk menyamarkan aromaku. aku tidak terluka. "


Dengan itu, aku menerima beberapa penampilan 'apakah orang ini serius?'


“Ah, baiklah, kalau begitu baiklah. Ada pos di sana dengan pemandian di belakang. Mengapa kamu tidak pergi dan mandi? Kamu sepertinya tidak membawa barang-barangmu, apalagi pakaian. Aku akan menyiapkan beberapa pakaian untukmu. ”


Pria yang baik hati... aku menerima tawaran itu dan menuju ke pemandian dan menyeka tubuhku dengan handuk pinjaman dan berganti menjadi baju. Hmm, itu sangat nyaman. *Pakaian lama itu membawa tas yang juga kupinjam. 

Aku meminjam banyak.... Mudah-mudahan, mereka tidak terlalu keberatan.


“Sekarang, kamu harus tenang sedikit. Namaku Russell. Dan kamu?"


Nama penjaga gerbang adalah Russell. Sepertinya ada banyak nama yang terdengar asing di sini. Aku berpikir ketika aku menghafal nama penyelamatku, sebelum memperkenalkan diriku juga.


“Aku Kamishiro Asagi... uh, maksudku Asagi Kamishiro. Terima kasih sudah membantuku."


Aku beralih cara mengatakan namaku yang terdengar lebih asing.


“Asagi, ya. Jangan khawatir tentang itu. Ayo mulai lagi. Selamat datang di Fhiraldo! ”


Yah, mengesampingkannya, sudah 6 hari sejak aku mulai mengembara di dunia baru ini. Dan akhirnya, aku tiba di kota pertamaku, 'Fhiraldo'. 

Editor : Shiro

                         «« Semua Chapter »»
======================================
BANTU SHARE YA DAN LIKE FP FACEBOOK KAMI UNTUK INFO UPDATE

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Jack Of All Trades - Chapter 6 Bahasa Indonesia"

Post a Comment

Update Lainnya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Selesai baca? Jangan lupa komen cuk!
Sekiranya ada yang mau donasi, silahkan via pulsa aja 085697306987