Katahane no Riku Chapter 40 Bahasa Indonesia

Mode gelap
Chapter 40 - Kenangan Luar Biasa


Di kastil Karkata, semua orang bergembira karena kemenangan.

Mereka tidak bisa menjatuhkan jenderal musuh, tetapi mereka menghancurkan lebih dari setengah pasukan mereka dan membuat mereka mundur. Tidak ada seorangpun di pihak iblis yang berharap mereka akan memiliki kemenangan besar meskipun kerugian besar mereka dalam jumlah.

Semua orang memadati alun-alun. Mereka minum minuman keras, memainkan alat musik, menyanyikan lagu-lagu dan merayakan kemenangan mereka. Itu adalah pesta yang menyatukan prajurit dan penduduk. Tetapi ada juga orang-orang yang tidak berpartisipasi dalam pesta.

Bersama dengan bawahannya, Riku menuruni salah satu tangga di dalam benteng. Tangga, yang terhubung ke ruang bawah tanah, dipenuhi dengan udara yang dingin dengan arti berbeda dengan dinginnya musim dingin. Tidak ada angin bertiup, jadi seharusnya tidak mungkin bagi seseorang untuk merasa dingin. Namun, suasana hati yang diberikan oleh dinding batu yang tumpul dan tangga curam yang tidak memiliki pegangan tangan akan membuat jantung membeku dalam arti yang berbeda.

Menekan keinginannya yang terburu-buru, Riku dengan hati-hati menuruni tangga selangkah demi selangkah untuk memastikan pijakannya.

"Ah-ah, orang-orang lain seharusnya sudah menikmati minuman mereka sekarang, kau tahu? Meskipun aku juga ingin minum ... "

Dari belakang, terdengar keluhan Vrusto. Tapi Riku tidak menjawabnya. Dia tidak memiliki kesabaran untuk menjawab setiap keluhannya bahwa jumlahnya sudah sangat banyak sehingga dia tidak tahu ada berapa banyak lagi. Dengan Riku yang mengabaikannya, Asty malah menjawab.

“Ini juga bagian dari pekerjaan-de gozaruyo, letnan dua Asuteroid. Dikatakan bahwa prajurit harus menyelesaikan tugas mereka tanpa kendur-de gozaru. "

"Bodoh, bukan itu. Hanya saja yang melakukan sebagian besar kerja keras dalam pertempuran ini adalah aku, kau tahu? Tapi meski begitu, aku tidak bisa ikut serta dalam pesta dan bahkan dipaksa pergi ke penjara bawah tanah yang bau ini. ”

Vrusto menghela nafas yang terasa agak dipaksakan. Tapi Riku, apakah itu Vrusto, apakah itu Asty, apakah itu Roppu, yang gugup dan tatapannya goyah, ia tidak berniat untuk mengikuti percakapan siapa pun.

Awalnya, Riku telah merencanakan untuk pergi ke ruang bawah tanah sendirian. Yang akan dia temui adalah musuh. Tapi dia tidak bisa membuat orang berpikir dia akan melakukan pembicaraan rahasia dengan para tahanan atau apakah dia mencoba untuk membiarkan mereka lari. Itu sebabnya dia membawa tiga orang yang bisa dia percayai.

“Jangan khawatir; itu akan segera dilakukan. Bagaimanapun juga, mereka akan mati. ”

Riku bergumam dengan susah payah. Dia bertingkah seperti anak kecil yang mengambil mainan itu. Meskipun dia mendapatkan apa yang diinginkannya, semuanya akan hancur. Itu adalah perkembangan yang membosankan. Menuruni tangga terakhir, Riku memandang ke depan ke koridor gelap.

Di awal koridor, ada seorang kepala penjara yang duduk di kursi. Ketika kepala penjara memperhatikan Riku, dia berdiri dan memberi hormat padanya.

"Senang bertemu denganmu, komandan letnan Barusak. Saya  Tipus. Saya lah yang mengelola daerah ini. "

“Terima kasih atas kerja kerasmu. Nah, di mana dia? "

“Ha, saya akan membawa anda kesana sekarang. Kami sudah mengumpulkan semua harta miliknya, jadi seharusnya tidak ada bahaya. ... Namun, dari apa yang dikatakan para dokter .... "

"Aku tahu. Dia seperti mukjizat untuk tetap hidup. ”

Riku menjawab dengan datar kembali ke penjelasan kepala penjara.

Setiap langkah kaki bergema dengan keras. Udara yang jauh lebih dingin menyelimuti Riku dan yang lainnya. Cahaya kecil pada lampu yang tergantung di dinding samar-samar menerangi ruang bawah tanah.

Setelah melewati banyak pintu, kepala penjara menghentikan kakinya di tempat tertentu. Dengan gerakan yang berpengalaman, kepala penjara melepas bilah yang mengunci pintu dan sambil mengangkat suara, dia membuka pintu.

"Dia di sini."

"Terima kasih."

Setelah melirik kepala penjara yang dengan hormat menundukkan kepalanya, Riku memasuki sel.

Itu adalah sel yang kotor dan jarang dibersihkan. Tempat itu tidak memiliki apa pun kecuali satu tempat tidur. Berbaring di tempat tidur yang agak kotor, ada seorang manusia yang ditutupi kain putih dan perban. Orang itu baru saja bernafas. Payudaranya yang menggairahkan perlahan naik dan turun. Sebagian besar wajahnya tertutup perban, tetapi tampaknya mata dan mulutnya baik-baik saja.

Ketika Riku mendekatinya, matanya sedikit terbuka, menatap Riku seolah mencoba mengingat sesuatu.

"Sudah lama. Apakah kau baik-baik saja? "

Seolah-olah dia telah bertemu teman setelah waktu yang lama, Riku berbicara. Setelah melakukan itu, mata yang sedikit terbuka tiba-tiba menjadi terbuka lebar. Seolah-olah bola matanya hampir keluar.

"Riku ... ojou ... sama?"

"Oh? Mary masih aja memanggilku ojou-sama. ”

Dalam keterkejutan, Riku mendekatkan tangannya ke mulut. Dan kemudian, dengan Riku tersenyum seperti yang dilakukan seorang wanita dari keluarga Barusak, wajah Mary kehilangan ekspresinya. Orang buangan yang dikira sudah mati tapi sekarang masih hidup. Hanya dengan itu, sudah layak untuk terkejut. Dan lebih dari itu, dengan bagaimana Riku datang untuk menanyainya di ruang bawah tanah musuh, Mary pasti sangat bingung. Dengan tatapan kosong, Mary membuka mulutnya.

"Mengapa anda di sini?"

"Untuk alasan apa Mary pikir aku ada di sini?"

Seolah-olah dia khawatir tentang Mary, Riku menepatkan tangannya ke tubuhnya. Dan kemudian, dia menekankan tangannya pada bagian yang diperban yang dilaporkan kepadanya sebagai tempat dimana dia terluka. Dengan melakukan itu, seperti yang diduga, Mary memelintir wajahnya dengan rasa sakit sampai-sampai wajahnya kehilangan ekspresi.

"... !!"

"Untukmu yang penuh luka ... Itu menyakitkan, bukan? Ah, kau juga sangat terluka di sini. Apakah kau baik-baik saja?"

Riku menusukkan jarinya ke lukanya seolah-olah dia tidak memperhatikan Mary memelintir wajahnya dengan sedih. Sambil menunjukkan wajah khawatir, di dalam hatinya, Riku dengan senang hati menekan tempat-tempat di mana Mary terluka. Karena itu, Mary mulai bernapas berat dari mulutnya.

“Ah, maafkan aku. Mungkin aku menyentuh tempat yang sakit? "

Setelah dipenuhi dengan kepuasan oleh penderitaan Mary, dia memasang wajah yang seolah-olah dia baru saja memperhatikan apa yang sedang dia lakukan. Tapi dia tidak mengangkat tangannya dari tubuh Mary. Sebaliknya, dia menekan dengan lebih banyak kekuatan. Di mata Mary, jejak kebencian mulai muncul. Tapi tidak mungkin Riku akan menyelesaikannya hanya dengan itu. Riku menggerakkan tangannya ke pipi Mary.

“Aku selalu ingin bertemu dengan Mary. Aku selalu berpikir untuk mengucapkan terima kasih begitu kita bertemu lagi. Ya, ya, misalnya, gadis itu benar-benar suka mengatakan itu ... Jika aku tidak salah, itu ... Sambil mengatakan sesuatu seperti "Jangan menghalangi jalan tuan muda untuk mendominasi, ok?", Dia akan melakukan sesuatu seperti itu, kurasa? ”

Sambil mengerutkan alisnya seolah-olah dia mengasihani Mary, Riku menjatuhkan sikunya ke perut Mary dengan seluruh kekuatannya. Tentu saja, itu di tempat yang terdapat luka-luka. Itu akan baik-baik saja bahkan jika Riku memukul di tempat yang terluka luka jika itu olehnya, tetapi jika dia melakukan itu, kesenangan akan kehilangan. Akan sia-sia jika Mary mati karena Riku telah memukulnya dengan cara yang buruk.

Dengan serangan tak terduga itu, Mary menjerit kesakitan. Karena jeritan ini, Riku merasakan keinginan untuk segera memenggal kepalanya. Tapi dia nyaris tidak tahan. Waktu yang menyenangkan masih banyak lagi yang harus dilalui.

“Ah, maafkan aku. Aku membuat kesalahan. Jangan di perut. Apakah aku menyiksa kakimu saja? Lihat? Dengan cara seperti ini. "

Sambil mengatakan itu, Riku menggenggam kaki kanan Mary yang patah ketika dia jatuh dari kudanya dan dengan segenap kekuatannya memutarnya dengan tangannya.

Jeritan yang begitu keras sampai-sampai Riku ingin segera menutup mulut dia yang berteriak. Meskipun dia terlalu lemah untuk berteriak sebelumnya, bagaimana mungkin dia memiliki kekuatan sebanyak ini untuk berteriak seperti ini? Manusia dibuat lebih tangguh dari yang diharapkan.

"Bukankah dia juga biasa mengatakan "jangan menggunakan posisi kakakmu sehingga kau bisa dekat dengannya dan menipunya" atau sesuatu seperti itu? Itu benar-benar kenangan indah. Mary benar-benar mencintai Rook. Karena itu demi dia, kau selalu mengancam ku. Kau akan menginjak kaki ku begitu saja ... Ah, maaf. Itu bukan kaki kanan; itu yang kiri, kan? ”

Dengan kasar membiarkan kaki kanannya lepas dari tangannya, dia memelintir kaki kirinya yang juga mengalami patah tulang. Kaki kirinya begitu penuh perban sehingga tidak mungkin untuk mengetahui perban mana yang digunakan untuk patah tulang dan mana yang untuk luka panah. Tapi itu tidak masalah bagi Riku terlepas dari perban mananya. Pada akhirnya, semua yang penting adalah mengetahui bahwa ini adalah tempat yang terluka parah.

Sementara dia memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya untuk bersenang-senang, dia mendengar suara Vrusto dan yang lainnya berbicara.

"... Uwaa, seperti yang diharapkan dari Ojou-chan. Benar-benar jahat ... "

“Aku mengerti, itu adalah teknik penyiksaan-de gozaruna. Ini akan bagus pembelajaran-de gozaru. "

"P-pembelajaran, katamu?"

"Bodoh. Itu bukan penyiksaan atau semacamnya. Hanya saja ojou-chan sangat jahat. "

Ketiganya berbicara banyak hal  dengan nyaman. Dia berbalik untuk mengatakan sesuatu kepada mereka, tetapi kemudian dia memperhatikan bahwa bibir Mary bergerak.

"Apa yang terjadi ... Dengan tuan muda?"

Karena gumaman itu, Riku secara refleks meludahkan air liur ke mulutnya karena terkejut.

Dia tidak bisa percaya bagaimana dia memiliki ketenangan untuk mengkhawatirkan tuannya meskipun berada dalam kondisi ini. Sambil menggenggam kaki kirinya, Riku memberikan senyum ceria.

"Apakah kau ingin aku memberitahumu?"

"Apakah sesuatu terjadi pada tuan muda?"

"Apakah kau ingin aku memberitahumu?"

Sambil tersenyum, dia mengulangi kata-kata yang sama. Kata-kata itu terasa seperti ada badai yang akan datang. Wajah penuh rasa sakit mulai berubah menjadi wajah yang lebih dekat dengan wajah buas. Riku tidak menganggapnya menyenangkan. Terlepas dari betapa kasarnya dia menjatuhkan kakinya di tempat tidur, ekspresi Mary tidak berubah.

"Apakah prajurit yang kalah ... Atau jenderal mereka, bahkan anda setidaknya harus tahu ... Nasib seperti apa yang mereka miliki."

Tentu saja, Riku tidak tahu apa yang terjadi pada Rook. Mary berada di pasukan Barusak yang menyerbu benteng, jadi Rook seharusnya ada di sana juga. Tetapi ia mundur dan berlari. Dia mungkin masih hidup. Dia kemungkinan besar kembali ke wilayahnya dan meringkuk di kamarnya sendiri yang hangat sekarang.

Tapi Riku ingin melihat wajah Mary yang sedih.

"H-Hal seperti itu ... Di mana, di mana dia? Apakah dia masih hidup? "

Itu mungkin kemungkinan yang paling ingin dihindari Mary. Karena nada suaranya yang memohon, Riku mulai ingin tertawa. Tapi dia seharusnya tidak tertawa pada saat ini. Sambil menunjukkan senyum yang berani, Riku terus menatapnya. Ketika dia melakukan itu, Mary mulai berteriak sambil batuk darah.

"Tuan muda ... Rook-sama. Apakah Rook-sama diperlakukan sebagai sandera? Saya, saya tidak peduli apa yang terjadi pada saya. Tidak apa-apa bahkan jika saya terbunuh. Tapi, setidaknya kasihanilah Rook-sama !! ”

"Kau benar-benar berisik."

Riku memindahkan tangannya ke pedang peraknya. Dia ingin memotong tenggorokan itu. Jika Riku melakukan itu, dia tidak perlu mendengar suara menjengkelkan yang tampak seperti geraman babi lagi. Tetapi jika dia melakukan itu, waktu bersenang-senangnya akan berkurang. Itu masalah. Itu sangat merepotkan. Karena dia akhirnya punya mainan untuk dimainkan, dia harus memperlakukannya dengan baik sebelum rusak. Setelah menghela nafas panjang, Riku berbisik di sebelah telinga Mary.

"Kau tidak akan peduli bahkan jika aku membunuhmu?"

"Iya. Dan sebagai gantinya, tolong, kasihani Rook-sama! ”

"Ini akan menjadi keinginanmu, kan?"

Sambil memberikan senyum manis, Riku meletakkan tangannya di sakunya.

“... Tapi kau sudah hampir mati. Kami berusaha membuatmu tetap hidup, tapi bukankah kau sudah pada kondisi yang  untuk berbicara saja sulit? ”

Dikatakan bahwa, wajah Mary menjadi suram. tepat pada sasaran. Sambil memutar-mutar wajahnya seolah-olah apa yang dikatakan Mary tidak bisa dimaafkan, Riku mengalihkan pandangan padanya.

"Bahkan jika aku mengambil kehidupan seseorang yang seperti itu, aku merasa itu tidak akan berarti. Lagipula, ini akan mati ... Bahkan jika aku sedikit mempercepat prosesnya, itu tidak akan banyak berubah. ”

"I-ini, ini, jangan mengabaikannya, tolong !!!"

Mary menangis air mata darah. Sambil mengangkat nafas, dia mengangkat wajahnya seolah-olah dia mengerti. Dan kemudian, dia mengulurkan tangannya kepada Mary.

"Aku tidak mengerti alasan mengapa kau menyukai Rook sampai titik ini. Jadi, aku akan menanyakan hal ini kepada mu di tempat yang sedikit berbeda. ... Tidak mungkin untuk memindahkan mu dalam kondisi ini; lalu ... Asty, Vrusto, bawakan tandu. "

Mengatakan itu, Asty dan Vrusto menyiapkan tandu. Dengan bantuan kepala penjara, Mary yang kebingungan dimasukkan ke tandu. Perlahan-lahan dibawa, mereka meninggalkan ruang bawah tanah.

"Jadi, mengapa kau menyukainya?"

Sambil naik tangga, Riku bertanya pada Mary. Ditanya itu, wajah Mary menjadi sedikit memerah. Dari bibirnya yang tipis, kata-kata yang sangat manis keluar.

"Tentu saja ... Karena aku ingin melihat sampai sejauh mana masa depan tuan muda ini."

Tanpa sadar, mata Riku menunjukkan keraguan. Dengan wajah yang terlihat seperti sedang kesurupan, sepertinya Mary bukanlah orang yang sama yang berteriak dalam kesedihan beberapa saat yang lalu.

"Masa depan?"

“Masa depan yang tuan muda bayangkan juga impian saya. Tentu saja, bahkan bagi saya, beberapa bagiannya sulit untuk dipercaya, tetapi meskipun demikian, saya ingin melihat sosok tuan muda memimpin semua orang. Sementara saya berjalan bersama tuan muda, saya ingin melihat dunia yang akan diciptakan tuan muda. Melayani tuan muda dan menggunakan hidup saya untuk kebaikannya ... itulah arti dari keberadaanku. ”

Bibir tipis Mary bergerak dengan gembira.

Mendengar kata-kata itu, Riku tiba-tiba teringat akan Leivein. Riku ingin bertarung bersama Leivein. Dia tidak benar-benar tahu apakah dia akan mati sampai musim dingin berikutnya seperti yang dikatakan oracle itu, tetapi dia hanya ingin berdiri di sebelah Leivein pada saat itu. Dia ingin berguna baginya. Memiliki keinginan ini dalam pikiran, pertempuran terakhir ini juga telah benar-benar diperjuangkan.

Tapi Riku tidak tahu.

Masa depan seperti apa yang diinginkan Leivein, apa tujuannya; dia tidak tahu tentang itu.

"Masa depan yang dia bayangkan, katamu?"

"Ya, masa depan yang tuan muda bayangkan."

Riku, yang naik tangga, menghentikan kakinya. Sambil memikirkan kata-kata yang dikatakan Mary, dia melihat ke belakang seperti yang telah dia lalui.

Tangga curam berjalan begitu dalam sehingga tidak mungkin untuk melihat dasarnya tanpa melelahkan mata. Seolah-olah semua itu hanya kegelapan.

"Aku juga perlu bertanya tentang itu."

“Kepada tuan muda? Ini sangat bagus. Dunia ideal yang dibayangkan oleh tuan muda saya jauh lebih luar biasa daripada yang dimiliki oleh raja mana pun ... "

" Dunia yang Kapten Leivein impikan. "

Mengganggu kata-kata Mary, Riku membuat tanda dengan tangannya. Melakukan itu, Asty dan Vrusto meletakkan tandu itu. Alasan mengapa Riku memerintahkan mereka untuk naik tangga tidak mungkin dipahami sama sekali. Mary memandang Riku dengan cara yang aneh. Jadi, Riku membalas senyumnya.

“Ngomong-ngomong, Mary. Apa kau tahu ini? ”

Riku mengeluarkan tangannya dari sakunya. Dia memegang bros emas. Riku menunjukkan kepada Mary bros emas yang memiliki lambang keluarga Barusak di depan matanya. Melihat bros yang sedikit ternoda darah, wajah Mary membeku.

"Mungkinkah ... a-anda !! Bukankah anda menjanjikan keselamatan tuan muda !? Janji itu bohong, benarkan !! "

" Apa yang kau bicarakan? Aku tidak ingat apa-apa tentang janji itu ”

Pertama-tama, tidak mungkin Riku dapat memiliki sesuatu yang dimiliki oleh Rook.

Itu adalah bros milik Riku sendiri. Karena dia bertambah dewasa, mantel yang dia pakai sepuluh tahun lalu tidak cocok untuknya lagi. Tetapi meskipun dia berpikir dia akan membuangnya suatu hari, anehnya, dia menjadi terikat padanya. Karena merasa terganggu apakah dia akan menyimpannya atau tidak , lalu akhirnya dia menyimpan bros itu.

Dia sendiri pada saat itu tidak pernah bisa membayangkan bahwa dia akan menggunakan brosnya dengan cara ini.

"Kalau begitu, selamat tinggal."

Dengan semua kekuatannya, Riku menendang Mary.

Tanpa bisa menahan diri, Mary jatuh ke tangga curam yang menuju ke bawah tanah. Tangga itu tidak memiliki pegangan tangan. Dia tidak punya tempat untuk meraih, rasa sakit merasuki seluruh tubuhnya, dan dengan demikian tidak mungkin untuk melakukannya.

Ketika Riku dan yang lainnya sekali lagi menuruni tangga ... mereka melihat sosok Mary yang anggota tubuhnya yang terpelintir ke arah yang aneh.

"Aha, ahahahaha !! Melayani anda dengan baik, melayani Anda dengan baik !! Hei, katakan sesuatu. Meskipun saya terjatuh dari tangga, saya tidak akan mati, Anda tahu? Bisakah Anda sedikit memahami rasa sakit saya? Hei! Hei! Hei !! ”

Dia menendang Mary, yang tidak mengatakan apa-apa, berkali-kali. Sambil tersenyum gila, dia tanpa henti menendang Mary. Tanpa bisa diam saat melihat Riku bertingkah seperti ini, Vrusto meletakkan tangannya di bahu Riku.

“Hei, ojou-chan! sudahlah ... "

Ketika dia berbalik padanya, melihat wajah Riku, Vrusto menjadi terengah-engah.

Matanya seperti orang yang baru saja melihat batu di tepi jalan. Kegilaan yang ada di matanya beberapa saat yang lalu tidak ada di sana, juga tidak ada tanda-tanda bahwa itu ada di sana. Yang ada di wajahnya hanyalah ekspresi bosan.

“Ojou-chan ...”

“Roppu, dia sudah mati. Panggil tim yang berhubungan dengan mayat. Asty, bisakah kau singkirkan tandu itu? ... Lagipula itu tidak diperlukan lagi. ”

“ Y-ya. ”

“ aku mengerti-gozaru !! ”

Sosok Roppu dan Asty menghilang.

Riku mulai menaiki tangga sekali lagi. Dia tidak kembali ke mayat Mary. Karena dia mulai menaiki tangga seolah-olah itu hal yang wajar untuk dilakukan, lalu, Vrusto diam-diam berbicara kepadanya.

"... Itu ... Apakah itu cukup?"

"Cukup? Aku tidak peduli lagi. ”

Ekspresi Riku seperti anak kecil yang bosan dengan mainannya.

Riku tidak tertarik pada Mary yang sudah mati. Itu karena dia masih hidup sehingga Riku dapat menikmati wajahnya menunjukan kesedihan. Setelah mati, itulah akhirnya. Dia merasa seolah-olah dia tidak mendapatkan semua kesenangan yang dia inginkan, tetapi dia cukup puas. Lain kali, itu akan menjadi giliran para pemimpin Barusak lainnya, yang sedikit lebih sehat daripada Mary. Jika memungkinkan, dia ingin itu Raku atau Rook, atau ayahnya yang tersayang dan terhormat.

Jadi, dia tidak peduli lagi dengan Mary.

“Lebih penting lagi, aku perlu mencari tahu jenis dunia apa yang Kapten Leivein impikan. Lagipula aku tidak tahu apa-apa tentang kapten. "

" ... "

Dengan jawaban Riku, Vrusto menjadi terdiam.

Tidak ada hal untuk ditanyakan Vrusto.

Namun meski begitu, Vrusto merasa dia perlu mengatakan sesuatu kepada Riku. Jika dia tidak memberitahunya sekarang, ngomong-ngomong dia pergi, dia akhirnya merasa meninggalkan sesuatu yang sangat berharga di belakang.

Sebagai pengasuhnya, dan sebagai instrukturnya, dia perlu berbicara dengannya. Tetapi ketika dia hendak mengatakan sesuatu, sebuah suara datang dari atas tangga.

“Komandan Letnan Riku Barusak! Seorang utusan datang dari ibukota iblis. Anda harus cepat-cepat datang ke ruang pertemuah. "

" Baiklah. ... Ikut aku, letnan dua Vrusto. ”

Riku memberi Vrusto perintah untuk menemaninya.

Setelah bermasalah beberapa saat yang lalu, dia menggelengkan kepalanya. Dan kemudian, dia memutuskan dia harus bertindak seperti biasanya.

"Ah ah. Apakah saya tidak punya waktu istirahat? "

" Ini perintah dari atasan mu. Cepatlah. "

" Ya, ya, mengerti ... Setelah itu, biarkan saya meminum alkohol, komandan letnan Riku !! "

Vrusto bertindak seperti biasanya.

Dan kemudian, dia mengikuti Riku.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Katahane no Riku Chapter 40 Bahasa Indonesia"

Post a Comment

Update Lainnya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Selesai baca? Jangan lupa komen cuk!
Sekiranya ada yang mau donasi, silahkan via pulsa aja 085697306987