Yuusha Isagi no Maou Hanashi Vol 2 Chapter 9 Bahasa Indonesia

Mode gelap
Volume 2 Chapter 9 - Orang Yang Berpotensi Menjadi Binatang.



[Awasi dari sana.]

Halaman itu bermandikan cahaya bulan.

Renzou setengah telanjang di bagian atas tubuhnya, dan mulai mengayunkan pedangnya.

Itu berarti dia selalu mengulangi tindakan ini setiap malam.

[Bagaimana kalau itu?]

[Hmm]

[.. Bajingan, dari apa yang dikatakan Ira, bukankah kau memiliki mata yang menakjubkan, bukan?]

[Aah, mata penguji eh]

Matanya yang di balik penutup mata agak terpikat.

Isagi mengangguk.

[Ya begitulah. Karnanya, karena itu kau membawaku ke sini. benarkan?]

[Aah]

Jadi ini bukan pertempuran. syukurlah, atau dia diam-diam merasa lega.

Lagipula, Isagi tidak mempelajari ilmu pedang di sini.

Jika dia harus mengikuti keadaan, maka tidak mungkin dia akan bisa menang melawan Renzou.

Dia akan berakhir dengan terpaksa mencoba melakukan berbagai hal.

Meskipun dia tidak begitu mengerti dengan berbagai hal itu.

[Syukurlah, apa yang akan terjadi di dunia ini sial]

Renzou meludah.

[Kenapa, aku turun ke belakang ke orang-orang itu .... kau tau, meskipun hal pertama yang harus kulakukan adalah kembali ke dunia kita, apa pun yang terjadi, kau tahu.]

Memang aneh atau begitu Isagi pikir.

Belum lagi Renzou melawan shuu, bahkan pertumbuhannya lambat bahkan dibandingkan dengan Yoshinobu.

Dia pasti juga telah melakukan banyak upaya dalam hal ini.

Bahkan latihan yang dia lakukan setiap malam, itu benar.

Sementara Yoshinobu membuat Lolishia mendengar 『gagasan novel hebat yang kupikir』, dia terus mengayunkan pedangnya.

Namun, bahkan dengan itu masih belum bisa dicapai.

Yang pasti, bagi Renzou itu adalah hal yang tidak dapat ia pikul.

Itu sebabnya dia hampir tidak pernah berbicara dengan siapa pun, bahkan Isagi terseret ke dalamnya.

Sikapnya yang tidak akan memilih cara demi tujuannya, Isagi salut.

Dalam beberapa hal, dia seperti Isagi tiga tahun lalu.

Isagi pada saat itu, tidak memiliki teknik lain selain keinginan menjadi lebih kuat.

Jika tidak seperti itu, maka dia tidak akan bisa melindungi Plea, atau begitulah pikirnya.

Di malam yang tenang teriakan seekor binatang terdengar di suatu tempat.

Juga, suara ken yang memotong udara bergema.

Saat Isagi, masih duduk bersila, dia melihat ke arah Renzou.

[Hei, Renzou]

[Aah?]

[Bisakah aku bertanya satu hal padamu?]

[Kau sungguh pria yang rewel, apa?] (TL: Tsun)

[Aku bertanya-tanya, mengapa kau dengan putus asa berusaha untuk kembali seperti ini]

[....... tch]

Keheningan, jatuh di antara keduanya.

Dari mana asal kekuatan roh Renzou? Isagi ingin mengetahuinya.

Tentunya dia tidak akan dengan mudah memberitahunya.

Selama 3 minggu ini sejak mereka dipanggil ke dunia yang tidak mereka kenal, dia benar-benar tidak pernah lengah dan melanjutkan pelatihan ini.
Ini adalah kekuatan mental yang tidak cocok untuk anak SMA.

Pada saat itu, ketika Isagi berpikir, seperti yang diharapkan, dia tidak akan membicarakannya dengan benar.

[Dirumahku]

Renzou mulai berbicara perlahan.

[Dia Ayumi, kau tahu]

[...... Apakah dia istrimu?]

[Bukan beon]

Namun Isagi tidak pernah bermaksud untuk mengolok-oloknya.

Saat Renzou menghadap tepat di depannya, dia mengayunkan pedangnya.

[Dia adik perempuanku. Kami tidak memiliki hubungan darah. Yah, itu tidak masalah kan]

[Hmm]

[Apa]

Dia menatap tajam.

Isagi terus terang memberitahu yang dia pikir.

[Yah, jika aku mengatakannya mungkin kau akan meneriaki aku lagi tapi .....
Motif untuk kembali adalah demi adik perempuanmu, entah bagaimana itu tidak terduga. Itulah yang kupikirkan]

[Cobalah untuk menyembunyikan perasaan sejatimu sedikit idiot] (TL: baaka ~)

[Maaf. Aku bingung bahwa aku selalu memiliki kepribadian seperti ini]

[......... Syukurlah. Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan, tetapi itu masih lebih baik daripada orang lain meskipun]

Renzou melihat ke sisi Isagi.

Bahkan pandangan sambilan yang selalu terlihat seperti itu, Renzou memelototinya, sekarang Isagi menerima perasaan aneh tapi ramah.
Selain itu, mungkin karena tidak ada yang melihat.

[...... Ayah dan ibuku sudah pergi]

[Eh?]

[Ayahku  berhutang dan melarikan diri. Ibu menghilang dengan lelaki baru. Orang-orang itu seperti sampah]

[.... Begitukah ... Itu pasti sulit eh]

Kedua orang tua Isagi, meninggal pada saat yang sama dalam kecelakaan lalu lintas ketika Isagi berada di tahun pertama sekolah menengahnya.

Mana yang lebih baik ketika dia ingin tahu.

Tidak, tidak perlu dipikiran seperti itu.

Renzou mendecakkan lidahnya. (Sfx : Tchh)

[Ketika aku berbicara denganmu, ritmeku  menjadi berantakan. Sial]

[Nggak apa-apa sesekali. Betul? ]

[..... Yah pada akhirnya, aku yang merawat Ayumi]

[Bukankah kau saudara yang baik]

[Hah, dari sudut apa]

Kali ini dia serius melotot.

Renzou memuntahkan kata-kata seolah dia mengejek.

[Dengan penghasilanku, kami bahkan tidak bisa hidup dengan baik.
Meskipun Ayumi masih kelas satu SMP, dia sudah bekerja di pengiriman surat kabar lho.
Lebih buruk lagi, rumah kami adalah 6  tatami kamar double. Apartemen kumuh yang kotor.
Aku bahkan tidak tahu apakah dia akan bisa melanjutkan ke SMA ..
Aku merasa diriku ini sampah sebagai abangnya kau tau]

Renzou mengayunkan pedangnya dengan liar.

Seolah ada sesuatu yang harus dia kalahkan di tempat itu.

Namun, Isagi memberitahunya.

[Kau adalah abang yang baik lho, Renzou. Untuk terlalu memikirkannya, adikmu pasti senang. kan?]

[........]

Renzou menurunkan pedang kayunya, dan kemudian melihat ke atas ke arah langit.

Bagian atasnya tampak seperti basah.

Keringat mengalir deras, dan menciptakan genangan air di tanah.

Sementara dia bernapas berat, dia bergumam.

[...... Kau juga, berbicara seperti apa yang Ayumi katakan eh]

[Ha ha]

[Apakah ada yang lucu hah]

[Maka kau harus menerimanya. Jangan keras kepala seperti itu]

[Itu masih belum cukup]

Dia mengarahkan pedang kayunya ke arah Isagi, dan dengan demikian berkata.

[Aku akan kembali dari dunia ini.
Tempatku bukan di sini. Ada seseorang yang menungguku di sana]

[..... Apakah begitu. Itu benar]

Bagi renzou, hari-hari ini pasti terasa sangat panjang.

Dia adalah orang dunia lain, meninggalkan saudara tirinya yang berada di usia yang berbeda darinya.

Bukannya dia hanya merasa khawatir tentangnya.

Tentunya ada juga masalah mendesak lainnya, seperti biaya hidup dan semacamnya.

Isagi merasa dia bisa merasakan satu bagian dari tekadnya yang kuat.

[Aku tidak punya waktu untuk duduk diam di tempat ini, oke, Isa.
Jika ada sesuatu yang tidak mencukupi tentangku, maka beri tahu aku. Aku akan menjadi lebih kuat]

Bahkan Isagi tidak tahu, apakah ada seseorang yang menunggunya atau tidak.

Namun, dia mengerti perasaan Renzou.

[Aku akan melakukan semua hal yang aku bisa lakukan juga. Renzou]

[Aah. Jika kau mencegahku akan membunuhmu , bajingan]

Renzou melihat ke sisi Isagi, mulutnya melengkung.

Meski hanya sedikit, tapi Isagi merasa dia tersenyum.

Masih ada perasaan ketidakdewasaan pada anak ini.

Namun, memegang hal yang harus dilindungi anak ini, itu adalah senyum yang gagah.

Sejak malam itu, latihan rahasia tengah malam Isagi dan Renzou dimulai.

※※※※※※※※※※※※※

Itu adalah peristiwa pada malam tertentu.

[Sikap berdiri Renzou terlalu sia-sia. Itu bukan perkelahian.
Hal yang disebut ilmu pedang adalah versi tertinggi di antara cara untuk membunuh manusia. Itu sebabnya itu disebut ilmu pedang]

[..... Sial! ]

Orang yang menjadi lawan Renzou malam ini, adalah Shuu.

Serangan pedang kayu yang berlangsung liar, dia dengan acuh menepisnya.

[Jangan abaikan pertahananmu.
Berhentilah dengan cara itu untuk mencoba mengalahkan lawanmu dalam satu pukulan.
Satu gerakan untuk menekan lawanmu agar celahnya terbuka. Satu gerakan untuk memojokkan lawanmu]

[Sialan kau berisik!]

[Gerakan pedangmu terlalu kedepan.
Kau harus menyembunyikan emosimu dalam-dalam. Lawanmu akan melihatmu. Kau tahu]

[Aku mengerti itu!]

Setelah bertukar pukulan sebanyak tujuh kali, Renzou melemparkan pedang kayunya ke arah Shuu.

[Oraaaaaaaaaa! ]

[Ups]

Shuu yang mengetuk kaki Renzou yang datang untuk memukulnya dengan tangan kosong.

Benar-benar terampil, Renzou jatuh.

Kemudian napasnya menjadi kasar.

Renzou menjadi huruf 大 di tanah.

[Apa yang kau lakukan, barusan ....]

[ ........ berisik ............]

Terlepas dari kenyataan bahwa ia kehabisan napas, ia tampaknya masih bisa bertarung.

Renzou benar-benar dapat menerima pukulan itu.

Sementara Shuu memanggul pedang kayunya, dia berjalan menuju Isagi dengan senyumnya yang biasa.

[Apa yang terjadi padanya?
Bukankah dia ​​luar biasa.]

[Sepertinya dia telah memutuskan untuk berubah lho]

[Itu bagus. Itu bagus jika kita bisa menjadi teman]

Sambil memberikan senyum ramah, Shuu berkata begitu.

Meskipun dia sudah mencoba melakukan kontak dengan Renzou, tetapi selalu diabaikan.

[Tapi aku merasa tidak enak kalau kau membantu kami.
Lagipula, aku bahkan tidak bisa menjadi lawannya]

[Tidak, akulah yang seharusnya mengatakan itu kau tahu.
Untuk bisa menangkal pola serangannya yang tidak teratur, itu juga menjadi pelajaran yang bagus untukku]

[Kau benar-benar pria yang baik sampai aku muak dengan itu, kau tahu. Serius .....]

[Isa-kun, kau terlalu melebih-lebihkanku]

Shuu yang tertawa tampak gelisah.

Hal yang disebut 'senyum yang baik-baik saja meskipun dia memelukku', mungkin kira-kira seperti ini.

Tidak tidak, mari kita cegah pikiran jahat itu.

[Seperti yang diharapkan untuk hari ini, sudah tidak mungkin ya]

Shuu bergumam sambil melihat ke langit yang mulai memutih.

Mata setelah dia menguap, ada sedikit air mata di atasnya.

[Benar eh. tolong temani kami nanti oke, Shuu]

[Yap, jika nggak apa-apa bagiku maka dengan senang hati]

Shuu mengatakan sesuatu seperti itu dengan senyum seperti matahari.

Jantung Isagi akhirnya berdetak sedikit.

※※※※※※※※※※※

Lagi-lagi, peristiwa itu terjadi di malam tertentu.

[Mati siiiialaaan! ]

Api keluar dari telapak tangan Renzou yang dia keluarkan.

Pria muda di seberangnya, sambil berteriak mengubah dunia dengan kode yang dia tulis.

[Hiiiiii!]

Teriakan adalah pemicunya.

Penghalang besar menghentikan api Renzou yang menyala.

Namun meski begitu, pemuda itu masih merasa lemas di tempat itu

[Itu, itu menakutkan, kau tahu, Ashikaga-kun!]

[Aaah! ?]

[Hiiii!]

[Apa yang kau coba lakukan dengan menakuti dia dengan tatapanmu]

Jadi, pada saat yang sama dengan gumaman itu, sebuah sihir hitam telah dilemparkan.

Bola air yang muncul di bagian atas kepala Renzou pecah.

Dibanjiri air, dalam sekejap ia basah kuyup.

[Wha, apa yang kau lakukan Isa! Sialan!]

[Mendinginkan kepalamu tau.
Kodemu terlalu monoton.
Bahkan aku yang bukan pengguna teknik terlarang bisa menangkalnya kau tahu]

[Aaha! ?

Tanpa menghiraukan itu.

[Yoshinobu, coba hal itu]

Dengan kata-kata Isagi itu, Yoshinobu berulang kali mengedipkan matanya.

[I-itu ......?]

[Ya. apa itu, yang kau kembangkan terakhir kali, uummm salah satu dengan penamaan berbahaya]

[Aah, Deadly beam yang mematikan itu kan?]

[Yap, benda itu] `

[Baiklah! ]

Yoshinobu yang memberi hormat, dan mulai menulis kode ke dunia sihir.

Dia menulisnya dengan cepat secara terperinci. Inilah senjatanya.

[Ap, apa itu sialan, itu Deadly beam yang mematikan ........! ? ]

[Renzou, kau tidak punya waktu untuk terpana seperti itu. Benar! Penghalang sihir putih! ]

[! Oh, Ou! ]

Meskipun mereka mengambil pelajaran pada saat yang sama, tapi tentu saja Renzou bahkan tidak mengerti setengah dari apa yang Yoshinobu gambarkan.

Ada terlalu banyak perbedaan di antara keduanya.

Namun, Renzou mampu sepenuhnya menyusun penghalang sihir putih, maka dia akan bisa menangkisnya.

Itulah persaingan antara sihir hitam dan sihir putih.

Namun.

Sihir hitam Yoshinobu selesai lebih cepat.

Dia mengangkat tangan kanannya dengan wajah yang sangat kesenangan, dan mengarahkan salah satu jarinya ke arah Renzou.

[Deadly beam!](TL: gue suka eng nya)

[O, oh! Itu penjaga sialan! ]

Sinar yang keluar dari ujung jarinya, dipantulkan dan bersinar di dalam kacamata yoshinobu.

Sinar panas itu langsung membentang ke arah tempat Renzou.

Tepat di depan mata Renzou, tembok cahaya yang besar muncul.

Tidak ada masalah dengan ukuran, dan kekuatan itu.

Namun, fakta bahwa ia tidak dapat menguraikan kode itu adalah fatal.

Tepat sebelum sinar panas bertabrakan dengan penghalang, itu membuat kurva besar.

[Apa!? ]

Renzou yang membuka matanya lebar karena terkejut.

Sihir yang ditembakkan Yoshinobu, adalah dasar dari teknik dasar berkelanjutan.

Jika kebetulan ilmu hitam ini mendeteksi permukaan bidang penghalang di atas lintasannya, maka itu akan melengkung dengan sangat baik maka sekali lagi ia akan bergerak mengarah ke target atau jadi itu sedang diprogram.

Itulah sebabnya cara menangkal sihir ini bukan dengan mengerahkan dua dimensi, tetapi tiga dimensi - Misalnya sesuatu seperti penghalang berbentuk bola.

Sinar panas langsung mengenai sisi Renzou.

Renzou yang tertiup angin dari tempat itu dan tumbang.

[Ooh ~, aduh aduh] - (TL: Tangan Yoshinobu terbakar oleh pemalasnya sendiri)

[Ap, apa yang kau katakan dengan acuh tak acuh bajingan!]

Renzou segera bangkit dan berteriak.
Namun, tidak ada satu pun luka di tubuhnya.

Tentunya dia juga dengan cepat menyadarinya, bahkan Renzou membuat ekspresi bingung.

[Ah .... Apa yang terjadi?]

[fufufu]

Yoshinobu melipat tangannya, lalu tertawa terkekeh.

[Deadly beam yang mematikan milikku kau tahu, ketika kau ingin meminta agar kodenya tidak hilang, kau bahkan harus mengatur kekuatannya dengan benar.
Karena itulah daya tembaknya selalu paling rendah!]

[Kamu membuatku takut! Sialan! ]

[Hiii ! ]

Yoshinobu mengasingkan diri di belakang Isagi dalam sekejap.

Saat Isagi bertanya padanya sambil tertawa.

[Bagaimana dengan itu? Dia orang yang cukup menarik, Renzou]

[It, itu memang benar eh ....]

Sementara Yoshinobu gemetar seperti tengkorak, dia mengangguk.

Meskipun kemampuannya dalam sihir hitam jauh lebih tinggi, ilmu pedangnya juga baik.

Tetapi tampaknya, sifat yang dimiliki seseorang, adalah sesuatu yang dapat dengan mudah diubah.

[Sialan. Sekali lagi, Yoshinobu! Lakukan sekali lagi!]

[eeh ... Kau tahu, aku berpikir untuk segera pergi tidur ......]

[Aaah! ?]

[Hiii!! Aku, aku akan melakukannya!
Biarkan aku melakukannya! ]

Dan kemudian, anak laki-laki yang berusaha keras untuk menyikat kode yang lebih dari yang mereka lihat di tempat latihan.

Dua pertempuran sihir hitam sekali lagi, berlanjut sampai fajar menyingsing.

Orang yang menyembuhkan tubuh Renzou yang terluka, juga menjadi pelatihan bagi teknik penyembuhan Isagi dan Rimino.

Bahkan tanpa mengganggu siapa pun, dalam arti tertentu, itu adalah menu latihan yang ideal.


Translator : AFlucifer
Editor : Arisuu

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Yuusha Isagi no Maou Hanashi Vol 2 Chapter 9 Bahasa Indonesia"

Post a Comment

Update Lainnya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Selesai baca? Jangan lupa komen cuk!
Sekiranya ada yang mau donasi, silahkan via pulsa aja 085697306987