Berserk Of Gluttony Vol 1 Chapter 4 Bahasa Indonesia

Mode gelap

Volume 1 Chapter 4 - Pedang hitam Greed


Aku menjatuhkan pedang hitam itu, terkejut karena pedang itu tiba-tiba berbicara. Penjaga toko yang sedang melayani pelanggan lain menatapku, dan menyipitkan matanya. Sepertinya dia mengatakan bahwa jika aku tidak bisa membeli apa pun maka aku harus segera pergi.

Tetapi ada beberapa hal lain yang aku pikirkan. Apa ini ... pedangnya berbicara - Aku belum pernah mendengar pedang dengan jiwa sebelumnya. Ngomong-ngomong, itu mungkin menggunakan skill <Mind Reading> ku sebagai perantara, namun tidak diragukan lagi bahwa pedang hitam ini memiliki sifat seperti manusia.

Untuk saat ini, aku memutuskan untuk memeriksanya dengan skill <Appraisal>.

・ Greed Form : Pedang satu tangan

Hah? Itu dia? Senjata lain menunjukkan informasi seperti daya tahan dan kekuatan serangan, namun, pedang hitam ini tidak memiliki apa pun selain nama dan bentuknya. Aku menatap pedang hitam misterius itu. Berdebu dan ternoda dengan minyak, terlihat kotor, sama seperti ku.



Apalagi karena sudah diperlakukan seperti sampah.

Memikirkan hal ini, aku merasakan kedekatan dengannya. Suara yang sebelumnya ku dengar pasti mengatakan, "Belilah aku ..." kan?

Meskipun telah berbicara dengan nada yang sombong, aku merasa pedang ini tidak berbahaya. Jika pedang ini bermaksud untuk menyakiti ku, itu akan terasa ketika aku menggenggamnya sebelumnya.

Maka, seharusnya tidak ada masalah jika aku menggenggam nya sekali lagi. Dengan membulatkan tekad, aku menggenggam pedang hitam itu. Dan kemudian terdengar suara yang lebih jelas dari sebelumnya.

"Aku pikir kau akan melarikan diri, kau cukup menarik. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Maukah kau membeli ku? "(TLN: Pedang hitam selalu menggunakan nada sombong / memerintah dan menyebut dirinya "ore-sama", cuma ngingetin.)

Aku melihat sekeliling pada senjata sampah lainnya. Tampaknya pedang hitam ini, Greed, adalah satu-satunya pedang yang bisa aku gunakan dengan benar. Jika aku menganggap pedang sebagai dengan teman ngobrol, itu seharusnya cukup baik.

"Aku akan membelimu. Aku merasa kita ini mirip. "

"Begitukah ... Lalu, bayarlah kepada pria gemuk di sana. Setiap kali aku melihat wajah sampah itu, aku merasa mual. ​​"

Membawa Greed, aku pergi dan meletakkan dua koin perak di konter. Masih berbicara dengan pelanggan lain, dia hanya melirik uangnya untuk mengkonfirmasi harganya, lalu mendesak aku pergi seolah-olah melambaikan tangganya seperti mengusir anjing atau kucing liar.

Dia adalah penjaga toko yang tidak menyenangkan sampai akhir. Tidak perlu baginya untuk memberitahuku, aku tetap akan pergi. Aku tidak akan datang kesini lagi!

Dalam upaya untuk membersihkan Greed, aku mengeluarkan lap dari sakuku dan membersihkan pedangnya. Meskipun demikian, kotorannya tetap ada. Mungkin kotoran itu akan hilang jika menggunakan sabun, tapi ... aku tidak punya uang lagi.

"Aku mengandalkanmu, Greed."

“Baiklah, ini mungkin keberuntungan. Atau mungkin itu takdir ... Aku akan tetap bersamamu sampai akhir. Jadi siapa nama mu?"

Btw, aku belum memberitahunya.

"Aku Fate Grafit."

“Hm, aku akan mengingatnya. Bagaimana sekarang, Fate? "

Apa yang akan dilakukan sekarang telah ditentukan tadi malam.

“Aku sudah mempunyai senjata. Kau mengerti, kan? ”

"Berburu?"l

"Ya, berburu monster!"

Segera, aku melakukan perjalanan dari Distrik Komersial ke gerbang selatan kerajaan dengan teman baru ku yang tidak hidup, Greed. Gerbang selatan dibuat untuk melewati sejumlah besar barang dagangan, dan karenanya gerbang itu jauh lebih besar dari tiga gerbang lainnya. Gerbang itu cukup lebar hingga sepuluh kereta kuda berjajar berdampingan bisa melewatinya.

Keluar dari sini, ada tempat bernama Goblin Meadow tepat di depan. Di sinilah goblin tinggal, menyerang kereta kuda saat mereka lewat dan mencuri makanannya. Mereka memiliki kekuatan terendah untuk seorang iblis, cocok untuk prajurit pemula berlatih.

Hal yang perlu aku perhatikan adalah ketika mereka bersembunyi di semak-semak untuk menyerang. Ada cerita para petualang yang melihat goblin yang sedang sendirian dan mencoba untuk menyerangnya, tapi akhirnya mereka dikelilingi dan dibunuh oleh para goblin yang bersembunyi di semak-semak. Oleh karena itu, ada pepatah yang berbunyi, "Jika kau melihat satu goblin, anggap saja ada seratus dari mereka." Aku telah mendengar kisah-kisah ini dari seorang prajurit tua yang mabuk di Bar. Aku tidak pernah berpikir itu akan berguna suatu saat.

Sekarang aku telah bergabung dengan para prajurit, gerbang pertama menuju sukses adalah berburu goblin. Skill One-Handed Sword Technique! Dengan ini, aku seharusnya bisa mengalahkan para goblin.

Dan kemudian, memakan jiwa mereka dan jadikan mereka kekuatanku sendiri.

Ketika aku menghindari kereta kuda dan menuju ke gerbang selatan, aku melihat banyak orang berkumpul, semua dilengkapi dengan senjata. Tampaknya ini adalah tempat pertemuan populer untuk party pemburu monster. Party, ya ... kedengarannya bagus. Sebagai orang yang diganggu di kampung halaman ku, hal seperti ini tidak mungkin. Bahkan di sini, aku diperbudak oleh Rafal, tidak ada kesempatan untuk berteman dekat dengan mereka.

Bertarung bersama, saling memberi semangat di saat-saat sulit, dan menangis bersama di saat sedih. Ayah ku yang sudah meninggal bercerita tentang party para pahlawan ini dan ketika aku masih muda, aku mendengarkannya dengan mata yang bersinar.

"Bukankah itu menyenangkan ... memiliki teman."

Aku menggumamkan ini pada diriku sendiri tanpa berpikir. Kemudian, Greed menjawab,

"Aku di sini bukan?"

"Y-ya ..."

Tetapi, kau adalah benda mati. Yang aku inginkan adalah teman yang sesungguhnya. Aku pikir ini perbedaan yang cukup besar. Baiklah, aku perlu membangkitkan semangat ku dan memasuki dunia pejuang. Segalanya tampak baik-baik saja sekarang, aku bukan lagi seseorang yang tidak punya apa-apa. Aku memiliki skill untuk membunuh monster. Tentunya aku bisa dan akan diterima oleh para prajurit.

Saat aku memikirkan hal ini, seorang prajurit pria yang terlihat seusiaku memanggil.

"Dengan pedang seperti itu, kau harus menjadi pejuang. Bagaimana dengan ini, mau bergabung dengan ku? "

"Apakah itu baik-baik saja ?!"

Aku menjadi bersemangat dan ketegangan ku meningkat. Aku adalah seseorang yang hampir tidak pernah mengalami dibutuhkan oleh seseorang sebelumnya. Diberitahu bahwa kekuatanku dibutuhkan, aku tidak bisa menahan perasaan bahagia ini.

“Ah, aku bermasalah karena teman memburu ku yang biasa tidak ada di sini. Ngomong-ngomong, level mu berapa? ”

"Ya, aku level 1!"

Mendengar ini, dia menarik ekspresi tegang. Setelah mengatakan bahwa ia memiliki beberapa urusan untuk dilakukan sambil menggaruk kepalanya, ia pergi. Eh ... Entah bagaimana, rasa kosong yang aneh ini tetap ada. Mendengar ini, Greed berbicara.

"Fate, menyerahlah. Bahkan dengan skill seranganmu, kau masihlah level 1. Kau mungkin mati dalam pertarungan. Jika itu kau, apakah kau ingin bergabung dengan pria yang lemah? "

Aku terkejut dengan ini. Setelah merasa sangat kuat setelah mendapatkan status dan skill Gluttony, aku lupa bahwa aku baru saja memulai dari garis start. Karena sejauh ini aku tidak punya pengalaman lain selain diperlakukan seperti sampah, aku belum memahami pandangan hidup yang biasa.

"Aku terlalu percaya diri bukan?"

“Tepat seperti itu. Selain itu, tidak baik untuk mengekspos skill "Gluttony" mu, jadi menyerahlah dalam mencari party. Selain itu, kau harus menggunakan skill Concealment mu untuk menyembunyikan segalanya kecuali skill One-Handed Sword Technique mu. Hanya itu yang harus aku katakan. "

"…Kenapa begitu?"

Aku belum berbicara tentang skill Gluttony ku jadi bagaimana ia tahu? Mendengar ini, Greed tertawa tanpa rasa takut.

“Itu karena kau dan aku sama. Yah, kau akan segera mengerti nanti. "

Setelah berbicara dengan nada sombong, Greed diam. Meskipun aku khawatir dengan kata-katanya, dia tidak salah. Skill Gluttony ku sangat kuat dan jika prajurit lain mengetahui tentang hal ini, hasilnya pasti buruk bagi ku.

Misalnya, jika mereka tahu bahwa skill itu bisa mengambil alih skill dari lawan yang dikalahkan, maka mereka mungkin mencoba mencuri kemampuan ku. Membunuhku saat aku masih lemah ... sepertinya. Itulaj hipotesis ku berdasarkan Rafal berpikir pada posisi itu. Yah, mungkin saja ada orang lain sepertinya.

Demi keselamatan ku, dan sepertinya satu-satunya cara untuk itu adalah berburu sendirian dengan Greed sampai aku mendapatkan kekuatan yang cukup untuk membela diri.

Pertama-tama, mari kita berburu goblin.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Berserk Of Gluttony Vol 1 Chapter 4 Bahasa Indonesia"

Post a Comment

Update Lainnya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Selesai baca? Jangan lupa komen cuk!
Sekiranya ada yang mau donasi, silahkan via pulsa aja 085697306987