Koko wa Ore ni Makasete Chapter 2 Bahasa Indonesia

Mode gelap

Chapter 2 - Dan 10 tahun pun berlalu


Sudah berapa lama aku bertarung? Aku sangat putus asa sehingga aku sulit mencari tahu.

Rasanya seperti sudah lewat beberapa minggu, atau juga beberapa bulan.

Rasanya juga lebih dari setahun.

Aku mengambil pedang Raja Iblis.

"Pakaian ku rusak ... dan aku tidak punya uang. Mungkin aku bisa menjual pedang ini. "

Itu adalah pertarungan yang pahit. Pakaian yang aku kenakan pun rusak.

Sangat disayangkan, karena ini adalah pakaian mahal dengan sihir tingkat tinggi dan ketahanan fisik.

Tetapi sekarang setelah pakaian ini rusak, aku otomatis tidak memakai apapun.

Aku bahkan kehilangan Kartu Petualang. Dan tas sihir ku, yang berisi uang ku juga telah habis terbakar.

Aku tidak punya apa-apa sekarang.

Tetap saja, jika aku bisa mendapatkan Kartu Petualang ku yang dibuat ulang, maka aku akan dapat menarik tabungan ku.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Aku sangat bersemangat ketika aku pergi dari dimensi terjepit ini.

???

"…Dimana aku?"

Begitu aku keluar, tidak ada apa-apa selain lapangan terbentang luas.

Saat ini adalah malam hari.

Kau tidak pernah bisa memastikan di mana kau akan muncul ketika kau melangkah keluar dari tempat itu di dimensi terjepit ini.

Kau baru saja memiliki gagasan yang tidak jelas.

Seharusnya ini membawa mu ke suatu tempat yang dekat dengan ibukota kerajaan.

"Yah, sedikit berjalan seharusnya membawaku ke kota."

Aku hampir tidak memakai apapun, yang hanya ada pedang di punggungku saat aku pergi.

Ada beberapa monster yang harus kubunuh dalam perjalanan ku, lalu melanjutkan perjalanan lagi.

Tapi aku beruntung dan bisa tiba di kota tepat saat matahari mulai terbit.

"Ini adalah ... ibukota kerajaan?"

Tampaknya suasananya sangat berbeda dari ibu kota kerajaan yang ku kenal, tetapi tidak salah lagi ini adalah ibukota kerajaan.

Aku menuju ke gerbang.

Dua penjaga memanggil ku untuk berhenti.

"Tu-tunggu sebentar."

"Apakah ada yang salah?"

"Apa ini? Apa yang terjadi denganmu?"

Mereka menatapku dari atas ke bawah. Aku kira, aku yang telanjang membuat mereka penasaran.

"Aku habis bertarung ..."

"Jadi begitu. Kau perampok kah ... Ada sedikit insiden belakangan ini, tapi kurasa mereka masih berkeliaran sekarang. "

"Tidak, aku bukan perampok ... Aku habis bertarung dan pakaianku rusak dalam pertarungan itu."

Aku berkata jujur, dan penjaga meletakkan tangan di pundakku.

Keduanya sekarang memiliki nada yang jauh lebih menghibur dalam suara mereka.

"Ya ya. Aku mengerti keadaannya. "

"Kau seorang Petualang kan. Pasti itu mengerikan ya. "

Aku menyangkal bahwa aku adalah perampok, tetapi mereka menganggap ku seorang Petualang.

Setelah semua, itu adalah tugas para Petualang untuk melindungi warga sipil dari perampok.

Akan sangat buruk untuk menjadi seorang Petualang lalu dirampok di jalanan.

Maka kedua penjaga itu tidak bertanya lagi.

"Apa, apa itu?"

Beberapa penjaga lainnya berkumpul.

Penjaga pertama yang menghentikan ku menjelaskan kepada yang lain.

"Hmm. Kau beruntung bisa hidup. "

"Kemampuan pribadi sehebat apa pun tidak bisa menandingi musuh yang melebihi mu. Hal-hal seperti itu sering terjadi. "

"Apakah kau punya kenalan di kota?"

“Uh, ya. Aku punya. "

Pahlawan, Eric. dan Warrior, Goran seharusnya tinggal di sini.

"Itu bagus. Dan apakah kau memiliki kartu identifikasi? "

"Punya ku hilang."

"Baiklah baiklah. Tentu saja itu hilang. Mereka mungkin membawanya bersama dengan tas mu. "

Jawab mereka simpatik.

"Kami akan membuat kartu sementara untuk mu. Katakan saja namamu. "

"Aku dipanggil Ruck."

"Ruck. Nama yang bagus. "

"Terima kasih."

Kartu sementara dibuat dengan cepat.

Tetapi aku menolak tawaran mereka untuk meminjamkan uang kepada ku.

"Tapi, kau tidak bisa berpakaian seperti itu."

"Kau akan ditangkap jika kau berjalan sambil telanjang begitu."

Setelah membicarakannya dengan para penjaga, mereka membawakan aku pakaian.

Tampaknya itu pakaian lama.

"Ini sebenarnya kebesaran ... tapi lebih baik lah daripada aku telanjang."

"Aku minta maaf, hanya itu yang kami miliki."

"Tidak apa-apa, terima kasih banyak."

"Kami memberikannya, jadi kau tidak perlu mengembalikannya."

Aku berterima kasih kepada penjaga yang baik dan memasuki ibu kota kerajaan.

Aku merasa sedikit tidak nyaman. Kota itu tampak terlalu berbeda dari yang kuingat.

Mungkin ketika aku bertarung sehingga banyak hal telah berubah.

Aku memutuskan untuk mengunjungi Eric dan Goran sebelum pergi ke Guild Petualang.

Lebih penting menyapa teman terlebih dahulu.

Jadi aku bertanya kepada orang yang lewat.

"Pahlawan, Eric? Ah, ini ... "

"Warrior, Goran? Ini…"

Mereka cukup terkenal. Jadi aku dengan mudah bisa mengetahui di mana mereka tinggal.

Rupanya, rumah Goran lebih dekat. Jadi aku memutuskan untuk mengunjungi Goran terlebih dahulu.

Tapi ketika aku sampai, aku terkejut. itu adalah rumah yang luar biasa.

"I-ini sangat besar."

"Apakah kau butuh sesuatu?"

Saat aku berdiri terkejut melihat ukurannya yang besar, penjaga gerbang mansion memanggilku.

"Aku ingin bertemu Goran. Apakah dia di rumah? "

"Ahh ... apa kau punya janji?"

"Bukan janji sih, tapi ..."

"Maka kau tidak bisa bertemu dengannya."

"Bisakah kau memberitahunya bahwa Ruck datang menemuinya?"

Namun, penjaga gerbang itu tidak mau mendengarkan.

"Silakan pergi."

"Tidak, dia pasti ingin melihat ku jika kau memberi tahu nama ku."

"Kami memiliki begitu banyak orang yang datang dan mengatakan hal itu ..."

"Tapi itu benar."

"Jawabannya adalah tidak."

Mungkin itu tidak berhasil karena pakaian ku yang compang-camping.

"Aku akan segera kembali!"

"Tolong jangan kembali lagi!"

Aku memutuskan untuk kembali lagi nanti.

Saat ini, aku adalah seorang pria yang tampak mencurigakan yang mengenakan pakaian compang-camping dan membawa pedang besar di punggungnya.

Sebagai penjaga gerbang, dia tidak bisa membiarkan ku masuk. Dan aku bisa menghargainya karena ia melakukan pekerjaannya dengan serius.

"Aku harus membeli pakaian, pertama-tama dapatkan Kartu petualang ku untuk dibuat ulang terlebih dahulu."

Dalam perjalanan ke guild petualang, Aku melewati alun-alun kota.

Ada patung batu megah yang didirikan di tengahnya.

Pasti hampir sepuluh kali lebih tinggi dari orang dewasa. Itu sangat besar.

Dan ukiran itu begitu hidup. Dia tampak seperti Sorcerer, dilengkapi dengan jubah dan staf*. (TLN : Tongkat Sihir)

"Pria yang cukup tampan ..."

Pria berwajah tampan. Tapi, siapa itu?

Aku memutuskan untuk bertanya kepada seseorang yang berdiri di dekatnya.

"Permisi. Siapa orang yang dijadikan patung ini ya? "

"Hah? Kau tidak tahu?"

"Mm. Aku sangat menyesal."

Orang itu menatapku dengan curiga.

Tapi setelah menatapku, lalu berubah menjadi ekspresi pengertian.

"Ah, aku mengerti."

Mungkin pakaianku yang compang-camping ini membuatku terlihat seperti orang kampung.

Sekarang dia tersenyum. Dia pasti punya kepribadian untuk bersikap baik kepada orang luar.

"Itu adalah patung Ruck, sang Pahlawan."

"Ruck?"

Aku terkejut mendengar nama ku sendiri. Tidak, itu tidak seperti Ruck adalah nama yang tidak biasa.

Itu pasti kebetulan.

"Ya, 10 tahun yang lalu pahlawan itu mengorbankan dirinya di dimensi terjepit untuk menghentikan pasukan besar iblis."

"Apa katamu!!"

"Dunia diselamatkan karena Ruck, dan kita semua bersyukur karenanya."

Itu patung ku. Tapi itu sama sekali tidak mirip dengan ku.

Dia terlalu tampan. Aku tidak setampan itu.

"Aku, aku ragu dia setampan ini ..."

"Hei kau. Itu sangat tidak sopan. Penggemar Ruck akan membunuh mu jika mereka mendengar mu mengatakan itu! "

Rupanya, aku punya penggemar yang biadab sekarang. Ngeri ih~.

Aku menatap patung yang jauh lebih tampan dari aslinya dan berdiri di sana dengan terkejut.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Koko wa Ore ni Makasete Chapter 2 Bahasa Indonesia"

Post a Comment

Update Lainnya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Selesai baca? Jangan lupa komen cuk!
Sekiranya ada yang mau donasi, silahkan via pulsa aja 085697306987